Woensdag 05 Februarie 2014

COD (Chemical Oxygen Demand)



Analisa COD dalam Air


Pengertian COD
COD atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar limbah organik yang ada di dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Limbah organik akan teroksidasi oleh kalium bichromat (K2Cr2O4) sebagai sumber oksigen menjadi gas CO2 dan H2Oserta sejumlah ion Chrom. Nilai COD merupakan ukuran bagi tingkat pencemaran oleh bahan organik. Kadar  COD dalam limbah berkurang seiring dengan berkurangnya konsentrasi bahan organik yang terdapat dalam air limbah, konsentrasi bahan organik yang rendah tidak selalu dapat direduksi dengan metode pengolahan yang konversional.
Metode Analisa COD
KOK= Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand = COD) adalah jumlah oksidan Cr2O7(2-) yang bereaksi dengan contoh uji dan dinyatakan sebagai mg O2 untuk tiap 1000 ml contoh uji. Senyawa organik dan anorganik, terutama organik dalam contoh uji dioksidasi oleh Cr2O7(2-) dalam refluks tertutup menghasilkan Cr(3+). Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O2 mg /L) diukur secara spektrofotometri sinar tampak. Cr2O7(2-) kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 400 nm dan Cr(3+) kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai KOK 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L ditentukan kenaikan Cr(3+) pada panjang gelombang 600 nm. Pada contoh uji dengan nilai KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L ditentukan pengurangan konsentrasi Cr2O7(2-) pada panjang gelombang 420 nm.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Analisis COD
 Adapun kelebihan dari metode analisi COD adalah sebagai berikut :
1.      Memakan waktu ±3 jam, sedangkan BOD5 memakan waktu 5 hari.
2.      Untuk menganalisa COD antara 50 – 800 mg/l, tidak dibutuhkan pengenceran sampel, sedangkan BOD5 selalu membutuhkan pengenceran.
3.      Ketelitan dan ketepatan (reprodicibilty) tes COD adalah 2 sampai 3 kali lebih tinggi dari tes BOD5.
4.      Gangguan zat yang bersifat racun tidak menjadi masalah.
                      Sedangkan kekurangan dari tes COD adalah tidak dapat membedakan antara zat yang sebenarnya yang tidak teroksidasi (inert) dan zat-zat yang teroksidasi secara biologis. Hal ini disebabkan karena tes COD merupakan suatu analisa yang menggunakan suatu oksidasi kimia yang menirukan oksidasi biologis, sehingga suatu pendekatan saja. Untuk tingkat ketelitian pinyimpangan baku antara laboratorium adalah 13 mg/l. Sedangkan penyimpangan maksimum dari hasil analisa dalam suatu laboratorium sebesar 5% masih diperkenankan.Senyawa kompleks anorganik yang ada di  perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De Santo, 1978), sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit ‘over estimate’ untuk gambaran kandungan bahan organik.
 Penanggulangan Kelebihan/Kekurangan Kadar COD
 Penanggulangan kelebihan Kadar COD
Pada Trickling filter terjadi penguraian bahan organik yang terkandung dalam limbah. Penguraian ini dilakukan oleh mikroorganisme yang melekat pada filter media dalam bentuk lapisan biofilm. Pada lapisan ini bahan organik diuraikan oleh mikroorganisme aerob, sehingga nilai COD menjadi turun. Pada proses pembentukan lapisan biofilm, agar diperoleh hasil pengolahan yang optimum maka dalam hal pendistribusian larutan air kolam retensi Tawang pada permukaan media genting harus merata membasahi seluruh permukaan media. Hal ini penting untuk diperhatikan agar lapisan biofilm dapat tumbuh melekat pada seluruh permukaan genting.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa semakin lama waktu tinggal, maka nilai COD akhir semakin turun (prosentase penurunan COD semakin besar). Hal ini disebabkan semakin lama waktu tinggal akan memberi banyak kesempatan pada mikroorganisme untuk memecah bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah. Di sisi lain dapat diamati pula bahwa semakin kecil nilai COD awal (sebelum treatment dilakukan) akan menimbulkan kecenderungan penurunan nilai COD akhir sehingga persentase penurunan COD nya meningkat. Karena dengan COD awal yang kecil ini, kandungan bahan organik dalam limbah pun sedikit, sehingga bila dilewatkan trickling filter akan lebih banyak yang terurai akibatnya COD akhir turun. Begitu pula bila diamati dari sisi jumlah tray (tempat filter media). Semakin banyak tray, upaya untuk menurunkan kadar COD akan semakin baik. Karena dengan penambahan jumlah tray akan memperbanyak jumlah ruang / tempat bagi mikroorganisme penurai untuk tumbuh melekat. Sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme akan meningkat dan proses penurunan kadar COD semakin bertambah. Jadi prosen penurunan COD optimum diperoleh pada tray ke 3.
Pada penelitian ini, efisiensi Trickling Filter dalam penurunan COD tidak dapat menurunkan sampai 60% dikerenakan :
1.      Aliran air yang kurang merata pada seluruh permukaan genting karena nozzle yang digunakan meyumbat aliran air limbah karena tersumbat air kolam retensi Tawang.
2.      Supplay oksigen dan sinar matahari kurang karena trickling filter diletakkan didalam ruangan sehingga pertumbuhan mikroba kurang maksimal.
Dalam penumbuahan mikroba distibusi air limbah dibuat berupa tetesan agar air limbah tersebut dapat memuat oksigen lebih banyak jika dibanding dengan aliran yang terlalu deras karena oksigen sangat diperlukan mikroba untuk tumbuh berkembang
Penanggulangan Kekurangan Kadar COD
Senyawa organik yang terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen dengan elemen aditif nitrogen, sulfur, fosfat, dll cenderung untuk menyerap oksigen-oksigen yang tersedia dalam limbah air dikonsumsi oleh mikroorganisme untuk mendegredasi senyawa organik akhirnya oksigen. Konsentrasi dalam air limbah menurun, ditandai dengan peningkatan COD, BOD, TSS dan air limbah juga menjadi berlumpur dan bau busuk. Semakin tinggi konsentrasi COD menunjukkan bahwa kandungan senyawa organik tinggi tidak dapt terdegredasi secara biologis. EM4 pengobatan 10 hari dalam tangku aerasi harus dilanjutkan karena peningkatan konsentrasi COD



COD atau kebutuhan oksigen kimia (KOK) adalah jumlah oksigen
(mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada
dalam satu liter sampel air, dimana pengoksidanya adalah K2Cr2O7 atau
KMnO4. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat
organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis
dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Sebagian besar zat organik melalui tes COD ini dioksidasi oleh

K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih optimum,


Perak sulfat (Ag2SO4) ditambahkan sebagai katalisator untuk
mempercepat reaksi. Sedangkan merkuri sulfat ditambahkan untuk
menghilangkan gangguan klorida yang pada umumnya ada di dalam air
buangan.

Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organik habis teroksidasi
maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluks.
K2Cr2O7 yang tersisa menentukan berapa besar oksigen yang telah terpakai.
Sisa K2Cr2O7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan ferro ammonium
sulfat (FAS). Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut.


Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu
disaat warna hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah. Sisa K2Cr2O7
dalam larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan blanko tidak
mengandung zat organik yang dioksidasi oleh K2Cr2O7.
Chemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Dalam hal ini bahan buangan organik akan dioksidasi oleh kalium bikromat (K2Cr2O7) dalam keadaan asam menjadi gas kabondioksida (CO2) dan air (H2O) serta sejumlah ion krom. Kalium bikromat digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent).

            Jumlah oksigen yang diperlukaan untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan organik sama dengan jumlah kalium bikromat yang terpakai pada reaksi oksidasi, maka makin banyak oksigen yang dibutuhkan, berarti air lingkungan makin banyak tercemar oleh bahan buangan organik.
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam satu liter sampel air, dimana pengoksidanya adalah kalium bikromat (K2Cr2O7) atau kalium permanganate (KMnO4). Misal, COD = 150 mg/l berarti dalam 1 liter limbah cair terdapat senyawa organik jumlahnya setara dengan 150 mg O2. Angka Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Sebagian besar zat organik melalui tes COD ini dioksidasi oleh kalium bikromat (K2Cr2O7) dalam keadaan asam yang mendidih optimum,
Perak sulfat (Ag2SO4) ditambahkan sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi. Sedangkan merkuri sulfat ditambahkan untuk menghilangkan gangguan klorida yang pada umumnya ada di dalam air buangan.
Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organik habis teroksidasi maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluks. K2Cr2O7 yang tersisa menentukan berapa besar oksigen yang telah terpakai. Sisa K2Cr2O7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan ferro ammonium sulfat (FAS). Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut.
Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu disaat warna hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah. Sisa K2Cr2O7 dalam larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan blanko tidak mengandung zat organik yang dioksidasi oleh K2Cr2O7.
Biochemical Oxygen Demand menunjukkan jumlah oksigen dalam satuan ppm yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecahkan bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri. Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, apabila suatu badan air dicemari oleh zat oragnik, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut. Beberapa zat organik maupun anorganik dapat bersifat racun misalnya sianida, tembaga, dan sebagainya, sehingga harus dikurangi sampai batas yang diinginkan. Berkurangnya oksigen selama biooksidasi ini sebenarnya selain digunakan untuk oksidasi bahan organik, juga digunakan dalam proses sintesa sel serta oksidasi sel dari mikroorganisme. Oleh karena itu uji BOD ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jumlah bahan-bahan organik yang sebenarnya terdapat di dalam air, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah konsumsi oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi bahan organic tersebut. Semakin banyak oksigen yang dikonsumsi, maka semakin banyak pula kandungan bahan-bahan organik di dalamnya.
Oksigen yang dikonsumsi dalam uji BOD ini dapat diketahui dengan menginkubasikan contoh air pada suhu 20ºC selama lima hari. Untuk memecahkan bahan-bahan organik tersebut secara sempurna pada suhu 20ºC sebenarnya dibutuhkan waktu lebih dari 20 hari, tetapi untuk prasktisnya diambil waktu lima hari sebagai standar. Inkubasi selama lima hari tersebut hanya dapat mengukur kira-kira 68 persen dari total BOD (Sasongko, Setia B. 1990).
Dalam kegiatan pengukuran kualitas limbah cair industri, terdapat beberapa parameter yang diperiksa oleh laboratorium lingkungan. Dari beberapa parameter air limbah, BOD5 dan COD merupakan dua parameter yang biasa diperiksa.
BOD5 ( Biochemical Oxygen Demand, 5 days ). Industri yang menggunakan bahan-bahan organik, baik alami maupun sintetis, akan menghasilkan limbah cair yang mengandung senyawa organik. Salah satu jenis senyawa tersebut adalah senyawa organik terurai ( biodegradable organics ) atau senyawa yang dapat dikonsumsi oleh mikroba. Parameter BOD5 sebenarnya menunjukan jumlah oksigen (mg O2) yang dikonsumsi mikroba aerobik saat menguraikan organik terurai dalam waktu 5 hari pada 1 liter limbah cair. Contoh : BOD5 = 100 mg/l berarti dalam 1 liter limbah cair terdapat sejumlah organik terurai yang membutuhkan O2 sebanyak 100 mg agar mikroba aerobic dapat menguraikannya dalam 5 hari. Organik terurai (biodegradable organics) : terdiri dari berbagai senyawa organik yang dapat diuraikan oleh mikroba, seperti karbohidrat, protein, sukrosa, glukosa dan lemak.
COD (Chemical Oxygen Demand). Selain senyawa organik terurai , limbah cair juga megandung senyawa organik yang tidak terurai (non biodegradable organics). Untuk memperkirakan jumlah total ke-2 jenis senyawa organik tersebut, dapat digunakan parameter COD. Parameter COD sebenarnya menunjukan jumlah oksigen (mg O2) yang ada dalam senyawa oksidan yang dibutuhkan untuk menguraikan seluruh senyawa organik yang terkandung dalam 1 liter limbah cair. Contohnya, COD = 150 mg/l berarti dalam 1 liter limbah cair terdapat senyawa organik jumlahnya setara dengan 150 mg O2. Selisih antara nilai COD dan nilai BOD 5 dari suatu limbah cair dianggap menunjukan jumlah senyawa organik tak terurai.
                             Jumlah organik tak terurai = COD – BOD5
Organik sulit terurai ( non biodegradable organics ) : Terdiri dari berbagai jenis senyawa organik yang sangat sulit diuraikan oleh mikroba, seperti herbisida, deterjen, sellulosa, minyak dan oli (Andi Wahyudin. 2011).
Biological Oxigen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis merupakan suatu analisis empiris yang mencoba mendekati secara global mendekati proses-proses mikrobiologis dalam air. Pemeriksaan BOD didasarkan pada reaksi oksidasi zat organis dengan oksigen di dalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik. Jadi nilai BOD tidak menunjukan jumlah bahan organik yang sebenarnya, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan tersebut. Jika konsumsi oksigen tertinggi yang ditunjukan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan-bahan buangan yang dibutuhkan oksigen tinggi.
Organisme hidup yang bersifat aerobik membutuhkan oksigen untuk beberapa reaksi biokimia, yaitu untuk mengoksidasi bahan organik, sintesa sel, dan oksidasi sel. Komponen organik yang mengandung senyawa nitrogen dapat pula di oksidasi menjadi nitrat, sedangkan komponen organik yang mengandung sulfur dapat di oksidasi menjadi sulfat. Konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengoksidasikan air pada suhu 200ºC selama 5 hari, dan nilai BOD yang menunjukan jumlah oksigen yang dikonsumsi dapat diketahui dengan menghitung selisih konsentrasi oksigen terlarut sebelum dan sesudah inkubasi. Pengukuran selama 5 hari dengan suhu 200ºC ini hanya menghitung sebanyak 68% bahan organik yang teroksidasi, tetapi suhu dan waktu yang digunakan tersebut merupakan standar uji karena untuk mengoksidasi bahan organik seluruhnya secara sempurna diperlukan waktu yang lebih lama, yaitu mungkin sampai 20 hari sehingga dianggap tidak efisien.
Air yang hampir murni mempunyai nilai BOD kira-kira 1 ppm, dan air yang memiliki nilai BOD 3 ppm masih di anggap cukup murni, tetapi kemurnia air diragunakn jika nilai BOD-nya mencapai 5 ppm atau lebih. Bahan buangan industri pengolahan pangan seperti industri pengalengan, industri susu, industri gula dan sebagainya memiliki nilai BOD yang bervariasi, yaitu mulai 100 ppm sampai 10.000 ppm, oleh karena itu harus mengalami penanganan atau pengeceran yang tinggi sekali pada saat pembuangan ke badan air disekitarnya seperti, sungai ataupun ke laut, yaitu untuk mencegah terjadinya penurunan konsentrasi oksigen terlarut dengan cepat di dalam badan air tempat pembungan bahan-bahan tersebut. Masalah yang timbul adalah apabila konsentrasi oksigen terlarut badan air tersebut sebelumnya sudah terlalu rendah.
Sebagai akibat menurunnya oksigen terlarut di dalam air adalah menurunnya kehidupan hewan dan tanaman air. Hal ini disebabkan karena mahluk-mahluk hidup tersebut banyak yang mati atau melakukan migrasi ke tempat lainnya yang konsentrasi oksigennya masih cukup tinggi. Jika konsentrasi oksigen terlarut sudah terlalu rendah, maka mikroorganisme aerobik tidak dapat hidup dan berkembang biak, tetapi sebaliknya mikroorganisme yang bersifat anaerobik akan menjadi aktif untuk memecah bahan-bahan tersebut secara anaerobik karena tidak adanya oksigen.
Senyawa-senyawa hasil pemecahan secara anaerobik seperti amin, H2S dan komponen fosfor mempunyai bau yang menyengat, misalnya amin berbau anyir dan H2S berbau busuk. Oleh karena itu perubahan badan air dari kondisi aerobik menjadi anaerobik tidak dikehendaki.
Cara Menentukan Nilai BOD, COD dan DO. Kebanyakan bahan-bahan buangan yang memerlukan oksigen mengandung karbon sebagai unsur yang terbanyak. Salah satu reaksi yang terjadi dengan pertolongan bakteri adalah oksidasi karbon menjadi karbon dioksida sebagai berikut :
C + O2                         CO2
Dalam reaksi ini diperlukan 32 gram oksigen untuk mengoksidasi 12 gram karbon. Jadi karbon memerlukan oksigen sebanyak 3 kali beratnya untuk melangsungkan reaksi tersebut, atau diperlukan 9 ppm oksigen untuk bereaksi dengan kira-kira 3 ppm karbon terlarut.
Reaksi tersebut di atas disebut reaksi pembakaran sempurna. Tetapi sebelum terbentuknya CO2 mungkin akan terbentuk hasil-hasil oksidasi sementara seperti alkohol, asam, amina, ammonia dan hidrogen sulfida. Senyawa-senyawa tersebut selain berbau busuk juga bersifat racun terhadap hewan dan manusia.
Karena bahan-bahan buangan yang memerlukan oksigen dapat menurunkan oksigen terlatur di dalam air dengan cepat, maka uji terhadap bahan-bahan buangan tersebut penting dilakukan untuk mengetahui polusi air. Untuk mengetahui adanya polutan tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu uji BOD (biochemical oxygen demand) dan uji COD (chemical oxygen demand). Pada prinsipnya kedua uji tersebut mengukur jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan tersebut melalui reaksi biokimia oleh organisme hidup (dalam uji BOD) atau melalui reaksi kimia (dalam uji COD).
Pada uji BOD mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya adalah : Dalam uji BOD ikut terhitung oksigen yang dikonsumsi oleh bahan-bahan anorganik atau bahan-bahan tereduksi lainnya yang disebut juga “intermediate axygen demand”. Uji BOD memerlukan waktu yang cukup lama yaitu minimal 5 hari. Uji BOD yang dilakukan selama 5 hari masih belum dapat menunjukan nilai total BOD melainkan hanya kira-kira 68% dari total BOD. Uji BOD tergantung dari adanya senyawa penghambat di dalam air tersebut., misal adanya germisida seperti khlorin dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik, sehingga hasil uji BOD menjadi kurang teliti (Anto Susanto. 2010).
 
I.     DASAR TEORI 
Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologic (KOB) adalah suatu analisa empiric yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air. Angka BOD ada­lah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (meng­oksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat-zat or­ganis yang tersuspensi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk mendisain sistem-sis­tem pengolahan biologic bagi air yang tercermar tersebut. Penguraian zat or­ganis adalah peristiwa alamiah; kalau sesuatu badan air dicemari oleh zat organis , bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut, dalam air selama, pro­ses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pads air tersebut.Jenis bakteri yang mampu mengoksidasi zat organis "biasa," yang ber­asal dari sisa-sisa tanaman dan air buangan penduduk, berada pads umumnya di setiap air alam. Jumlah bakteri ini tidak banyak di air jernih dan di air buangan industri yang mengandung zat organis. Pada kasus ini pasti perlu ditambahkan benih bakteri. Untuk oksidasi/penguraian zat organis yang khas, terutama di beberapa jenis air buangan industri yang mengandung mi­salnya fenol, detergen, minyak dan sebagainya bakteri harus diberikan "waktu penyesuaian" (adaptasi) beberapa hari melalui kontak dengan air buangan tersebut, sebelum dapat digunakan sebagai benih pads analisa BOD air tersebut.Sebaliknya beberapa zat organis maupun inorganic dapat bersifat ra­cun terhadap bakteri (misalnya sianida, tembaga, dan sebagainya) dan ha­rus dikurangi sampai batas yang diinginkan. Derajat keracunan ini juga da­pat diperkirakan melalui analisa BOD.Prinsip AnalisaPemeriksaan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organis dengan oksigen di dalam air, dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik. Sebagai hasil oksidasi akan terbentuk karbon dioksida, air dan amoniak. Reaksi oksidasi dapat dituliskan sebagai berikut :Atas dasar  reaksi tersebut, yang memerlukan kira-kira 2 hari di mana 50 % reaksi telah tercapai, 5 hari supaya 75 % dan 20 hari supaya 100 % tercapai, maka pemeriksaan BOD dapat dipergunakan untuk menaksir beban pence­maran zat organis . Tentu saja, reaksi (1) juga berlangsung pada badan air su­ngai, air danau maupun di instalasi pengolahan air buangan yang menerima air buangan yang mengandung zat organis tersebut. Dengan kata lain, tes BOD berlaku sebagai simulasi (berbuat seolah-olah terjadi) sesuatu proses biologis secara alamiah.Reaksi biologis pada tes BOD dilakukan pada temperatur inkubasi 20° C dan dilakukan selama 5 hari, hingga mempunyai istilah yang lengkap BOD (angka 20 berarti temperatur inkubasi dan angka 5 menunjukkan lama waktu inkubasi), namun di beberapa literatur terdapat lama inkubasi 6 jam atau 2 hari atau 20 hari*.Demikian, jumlah zat organis yang ada di dalam air diukur melalui jum­lah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk mengoksidasi zat organis tersebut. Karena reaksi BOD dilakukan di dalam botol yang tertutup, maka jum­lah oksigen yang telah dipakai adalah perbedaan antara, kadar oksigen di da­lam larutan pada saat t = 0 (biasanya barn ditambah oksigen dengan aerasi, hingga = 9 mg 02 /E, yaitu konsentrasi kejenuhan) dan kadarnya pads t = 5 hari (konsentrasi sisa harus ->- 2 mg 02 j agar supaya hasil cukup teliti). Oleh karena itu, semua sampel yang mengandung BOD > 6 mg 02 /f harus dien­cerkan supaya syarat tersebut terpenuhi.


GangguanAda 5 jenis gangguan yang umumnya terdapat pada analisa BOD aitu nitrifikasi, zat beracun, kemasukan udara pada botolnya, kekurangan nutrient (garam) dan kekurangan bakteri yang dibutuhkan proses tersebut. Gangguan-gangguan tersebut akan diuraikan di bawah ini :a.       Proses nitrifikasi dapat mulai terjadi di dalam botol BOD setelah 2 sampai 10 hari : NH3 amoniak berubah menjadi NO3- )nitrat) lewat NO2- (nitrit) olh jenis bakteri tertentu.b.      Zat beracun dapat memperlambat pertumbuhan bakteri (yaitu memper­lambat reaksi BOD) bahkan membunuh organisme tersebut. Kalau zat tersebut memang sangat beracun hingga bakteri-bakteri ti­dak bisa hidup same sekali atau sukar berkembang, maka hanya sebagian jumlah bakteri akan aktip dalam oksidasi zat organis tersebut, hingga BOD yang tercatat akan lebih rendah dari angka BOD sesuatu sampel yang tidak mengandung zat beracun. Contoh zat beracun adalah Cr (VI) (bukan Cr (III) Hg, Pb, CN-- (sianida), clan sebagainya, yang konsentra­sinya melampaui sesuatu kadar yang tertentu (biasanya sangat kecil). Gambar 10.2. menunjukkan efek zat racun terhadap pertumbuhan bak­teri. Kategori zat lain, seperti misalnya fenol dan bermacam-macam se­nyawa organis asal minyak tanah, tidak beracun sekali; namun akan memperlambat permulaan. proses BOD karena hanya se­bagian kecil dari jumlah benih bakteri mampu mengoksidasi zat organic tersebut hingga perkembangan populasi jenis bakteri khusus yang diper­lukan (cocok) menjadi terhambat. Kadang-kadang zat organic tersebut memang dapat beracun terhadap beberapa jenis bakteri saja. Pada kasus ini, sebelum tes BOD harus diadakan mass penyesuaian jenis-jenis bakteri terhadap racun (adaptasi).c.               Kemasukan (atau keluarnya) oksigen dari botol selama waktu inkubasi harus dicegah. Botolnya harus ditutup dengan hati-hati (di atas tutup bo­tol bisa diberi air (water seal); gelembung udara tidak boleh berada da­lam botol; gelembung udara dapat di keluarkan dengan mengetuk botol. Juga ganggang dan lumut dapat menambah atau mengurangi kadar ok­sigen secara tak teratur. Oleh karena itu pads waktu inkubasi botol BOD harus di simpan di tempat gelap.d.             Nutrien merupakan salah satu syarat bagi kehidupan. bakteri-bakteri. Nu­trien terbentuk dari bermacam-rAacam garam (Fe, K, Mg, dan sebagai­nya). Biasanya sampel sendiri (air buangan penduduk, air sungai) me­ngandung cukup nutrien, tetapi zat tersebut kadang-kadang kurang da­lam air buangan industri sebelum proses berlangsung. Karena kekurangan nutrien tersebut sukar diduga, maka sebaiknya pads setiap botol BOD di­tambah nutrien secukupnya sebelum mass inkubasi, yaitu pads seat t = 0.e.       Karena benih dari bermacam-macam bakteri dapat kurang jumlahnya atau kurang cocok bagi jenis air buangan yang akan dianalisa, maka cara pembenihan pads butir A2.2. selalu harus diikuti dengan baik, hingga menjamin jumlah populasi bakteri yang diperlukan (cocok).Catatan :Kalau sampel BOD mengandung zat racun, pertumbuhan bakteri terhalai (inhibisi) maka angka BOD rendah. Namun, hal ini tidak mempengaruhi an lisa COD yang tidak tergantung dari pertumbuhan bakteri (lihat jugs Bab 5 "COD"). Oleh karena itu perbandingan BOD5 /COD dapat menunjukkan ad nya gangguan tersebut (analisa BOD dan COD saling melengkapi).Cara lain untuk mendeteksi gangguan tersebut adalah pengenceran car pel supaya dosis zat beracun dapat berada di bawah konsentrasi yang berb hays; memang cara ini terbatas karena kadar oksigen terlarut dalam same terbatas, hingga pengenceran maksimum yang diperbolehkan adalah kira-kira 10 kali.

Tabel 10.1 menunjukkan nilai perbandingan angka BOD5 dengan COD untuk beberapa jenis air dan air buangan
Batas deteksi, ketelitian.

Hasil BOD5 diperbolehkan menyimpang dari harga yang sebenarnya sebes plus atau min 5 %, untuk seseorang yang telah berpengalaman. Hasil antara dua laboratorium atau lebih, dapat berbeda ± 10 %. Analisa BOD selalu akan, kurang tepat, namun demikian analisa ini sangat penting karena mencerminkan proses alam yang hampir sama dengan kenyataan. Penyimpangan dise­babkan oleh adanya proses-proses mikrobiologis yang kurang dapat diatur oleh manusia, serta kesulitan pads analisa zat oksigen yang terlarut dalam sampel. Apabila sampel diencerkan maka ketelitian analisa zat oksigen ter­larut semakin buruk.
Pengambilan dan pengawetan sampel.
Sampel BOD harus dilakukan/dimulai paling lama 2 jam setelah pengambilan sampelnya (karena proses biologis terns berlangsung dalam botol sampel se­hingga BOD akan turun secara otomatis). Kalau hal ini tidak mungkin, sam­pel harus disimpan pads ± 4~C (kulkas atau tabung isotermik/terisolasi yang pakai es biasa atau es CO2 kering) selama paling lama 24 jam. Sampel bisa disimpan lebih lama sebagai es di dalam freezer, tetapi ketelitian analisa semakin buruk, hingga tidak merupakan anjuran.I.              ALAT DAN BAHAN PERCOBAANPipet Ukur (Measuring Pippete)

Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang dipindahkan dikeluarkan menikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar.Untuk keperluan analisa BOD menggunakan DO meter dalam analisa oksigen terlarut, pipet ukur digunakan untuk mengambil larutan sampel jika diperlukan pengenceran untuk kemudian dipindahkan ke wadah yang diinginkan (tabung ukur, Erlenmeyer, dll). Jika analisa oksigen terlarut dengan metode titrasi Winkler, pipet digunakan untuk mengambil larutan seperti larutan mangan sulfat, alkali iodide azida, dan asam sulfat pekat.

Silinder (tabung ukur/ gelas ukur/ Graduated Cylinder)



Bentuk: Berupa gelas yang agak tinggi dengan perincian tercantum pada dinding.
Volum tersedia: dari 10 ml – 2000ml. Bahan: terbuat dari kaca biasa atau plastik sehingga tidak dapat dipanaskan.
Kegunaan: untuk memindah atau mengukur volum cairan dengan ketelitian sedang. Di dalam analisa BOD, gelas ukur digunakan sebagai tempat larutan hasil pengenceran.Pada saat mengukur volume larutan, sebaiknya volume tersebut ditentukan berdasarkan meniskus cekung larutan.     
                               
Gelas Arloji



Digunakan untuk menimbang berat suatu zat padat dalam pembuatan reagen atau larutan jika analisa oksigen terlarut menggunakan titrasi Winkler.

Buret



Bentuk : sebuah tabung kaca bergaris yang mempunyai kran diujungnya untuk mengeluarkan volume cairan tertentu dengan debit berupa tetes.Volume tersedia: 25ml atau 50 ml dengan interval 0,1ml, satu tetes yang keluar dari ujung buret ± setara dengan 0,03ml.
Cara penggunaan : bilas buret dua kali dengan cairan yang diisi ke dalam buret, pengisian buret dilakukan dari atas dengan corong, gerakkan kran untuk mengatur volume air buret ke gelas erlenmeyer. Ketika membaca buret, mata harus tegak lurus dengan permukaan cairan dan dibaca pada meniskus cekung cairan.Di dalam analisa BOD, buret digunakan untuk melakukan titrasi jika pengukuran oksigen terlarut dilakukan dengan metode Titrasi Winkler.

Erlenmeyer (Erlenmeyer Flask)



Bahan: terbuat dari kaca borosilikat yang tahan panas sehingga dinding yang tipis untuk memudahkan pemindahan panas dan mengurangi tegangan termis.
Volum tersedia: 20-2000ml; skala volum yang tercantum pada dinding gelas tidak teliti sama sekali dan merupakan petunjuk kasar saja.
Kegunaan: sebagai tempat titrasi digunakan gelas erlenmeyer yang lehernya lebar, sehingga walau digoyangkan, titran tetap dapat menetes dengan mudah ke dalamnya. Di dalam analisa DO, Erlenmeyer digunakan untuk standardisasi tiosulfat.

Labu takar



Bentuk: pada dinding labu takar tercantum kode “ln” atau ‘TC’ = To Contain, juga tercantum perincian sama seperti pada dinding pipet.
Volume tersedia: dari 20-2000 ml.
Kegunaan: untuk mengukur volum cairan yang tertentu atau untuk membuat larutan atau pengenceran larutan dengan kadar yang tepat.Cara menggunakan: sebelum digunakan, labu takar harus dibilas dahulu dengan air suling, kemudian dibilas dua kali dengan jenis cairan yang akan diisi ke dalam labu takar tersebut, volum cairan tepat sama dengan yang tercantum pada dinding labu takar, bila meniskus cairan menyentuh tanda garis leher labu takar.

Botol BOD (Winkler)



Bentuk: seperti botol biasa, dengan tutup pasangannya.Volume tersedia: 250 ml-300 ml.Bahan: terbuat dari kaca biasa atau kaca borosilikat.Kegunaan: untuk analisa BOD dan oksigen terlarut.Cara menggunakan: dasar tutup dibuat miring agar botol BOD dapat diisi sampai penuh tanpa ada gelembung udara yang terperangkap di dalamnya. Ada jenis botol yang dilengkapi water seal yaitu di sekitar mulut botol dan atas tutup dapat diberi sedikit air suling guna mencegah masuknya udara.

Inkubator BODInkubator BOD adalah inkubator yang khusus digunakan untuk analisa BOD. Suhu yang disediakan adalah 20ºC dengan penyimpangan ±1ºC
.

Dissolved Oxygen meter (alat pengukur oksigen terlarut)



Cara penggunaan: Sebelum digunakan, DO meter dikalibrasi dahulu dengan mengukur kelembaban dengan meletakkan ujung alat di atas permukaan aquadest, ukur DOnya dan hasil harus mendekati 100% dengan penyimpangan ± 3%, setelah itu dilakukan pengecekan dengan menggunakan larutan Natrium Tio sulfat yang diketahui konsentrasinya, hasil pengukuran harus tepat dengan penyimpangan ±3%. Kemudian dikalibrasi lagi dengan aquadest seperti tahan awal. Jika hasilnya baik, alat layak digunakan. Perlu pengadukan dengan stirer atau alat digoyangkan pelan-pelan ke dalam sampel agar larutan menjadi homogen. Setelah beberapa saat, angka digital akan berjalan sampai keluar hasil yang konstan. Biasanya dinyatakan dalam mg/l.

I.         CARA KERJAAlat-alata.     Botol-botol inkubasi Winkler (terbuat dari kaca) 250 -- 320 ml di mana volumnya diketahui dengan tepat, karena tercantum pads botolnya* botol tersebut dapat memakai tutup khusus lingkar air (water seal), teta­pi biasanya dasar tutupnya membentuk kerucut supaya kelebihan air dan gelembung udara dapat dihilangkan dengan mudah;
b.     Inkubator : suhu terjamin 20 ± 10 C; gelap;
c.   4 labu takar 1 liter; 3 labu takar 2 liter; bermacam-macam pipet; kalau tersedia, dispenser otomatis;
d.   Peralatan bagi analisa oksigen terlarut (lihat bagian B dan C Bab ini).Reagen.a.   Air suling : tidak boleh mengandung zat beracun, seperti Cr, C12 , dan se­bagainya.
b.   Larutan bufer fosfat     Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi ± 500 ml air suling, 8,5 g KH2 PO4, 21,75 g K, HPO4, 33,4 g Nat HPO4. 7 H2 0, dan 1,7 g NH4 Cl Kemudian encerkan dengan air suling sampai menjadi 1,000 liter; sesuai­kan pH-nya sampai pH 7,2 dengan asam HCI atau basa NaOH 0,1 atau I N.c.     Larutan magnesium sulfat :     Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi ± 500 ml air suling 22,5 g Mg SO4. 7H20 dan encerkan dengan air suling sampai menjadi 1,000 liter.d.     Larutan kalsium klorida    Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi ± 500 ml air suling, 27,5 g CaC12 dan encerkan dengan air suling sampai menjadi 1,000 liter.e.     Larutan feriklorida :     Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi ± 500 ml air suling 0,25 g FeC13. 6 H20 dan encerkan dengan air suling sampai menjadi 1,000 liter. Larutan b sampai dengan e harus diganti kalau endapan atau lumut telah muncul.f.    Larutan basa NaOH atau KOH, dan asam HCl atau 1-12 SO4 1 N untuk menetralkan sampel air yang bersifat asam atau basa sampai pH-nya ber­kisar antara 7,0 dan 7,6.g.     Bubuk inhibitor nitrifikasi     N-Serve (Dow Chemicals), allyltio-ureum (ATU) (Merck) atau Nitrifica­tion Inhibitor 2533 (Hach Chem. Co).h. Benih    Ambil ± 10 g tanah yang subur, yang dapat ditanami, yang tidak mengan­dung zat beracun seperti pestisida; demikian pH-nya antara 6 dan 7,5. Campur tanah tersebut dengan ± 100 ml air sampel yang akan diperiksa (atau kalau BOD nya > 1000 mg/1, encerkan sampel lebih dahulu).     Simpan suspensi tersebut selama 1 hari pads temperatur 20° C dalam kubator gelap. Saringlah suspensinya dengan kertas sating biasa, kira-kira 50 ml air saringan dipakai untuk pembenihan. Air saringan tersebut me ngandung antara 10' sampai 109 organisms yang hidup per ml. Benih tei sebut berlaku selama beberapa jam, atau beberapa hari jika disimpan kulkas.Adaptasi : Kalau air sampel mengandung zat organis yang khusus dan "nonbiodegradable" (sulit dipecah oleh bakteri), misalnya yang berasal dari industri kimia atau petrokimia, maka inkubasi tanah harus diteruskan sampai 3,4 atau 5 hari supaya bakteri-bakteri dapat menyesuaikan diri terhadap senyawa sampel tersebut. Bakteri yang telah dapat menyesuaikan diri terhadap suatu jenis air buangan jugs dapat ditemui pada lumpur saluran drainase, lumpur sungai dekat dengan pem buangan air limbah tersebut, pads sebuah sistem pengolahan mikrobiologis (besar maupun instalasi laboratorium) dan se­bagainya. Lumpur atau air buangan diambil lalu disaring tanpa inkubasi. Air saringan tersebut sudah mengandung be­nih yang cocok bagi jenis air buangan tersebut.
i.       Air pengencer (laruten kerja) :
     Hitunglah berapa volum air pengencer yang dibutuhkan untuk melaksa­nakan sejumlah analisa BOD yang direncanakan (lihat A.2.3). Tuangkan­lah ke dalam botol atau jirigen sebanyak liter air suling dan tambah per liternya, 1 ml dari masing-masing larutan b, c, d, e, (dan j), serta kurang lebih 10 mg bubuk inhibitor nitrifikasi. Sesuaikan pH pads pH 7,0 ± 0,1. Campuran dikocok lalu diaerasikan selama 1 jam (kalau volum > 10 1, diperlukan 2 jam). Suhunya sebaiknya sekitar 20° C. 1 jam sebelum tes BOD dimulai, ditambah 1 ml larutan benihan dari butir h. Air pengencer diganti setiap minggu.
j.       Larutan Nat S03 (natrium sulfit) hanya untuk air yang mengandung se­nyawa klor aktip.
Cara kerja.1.   Sampel yang bersifat,Asam atau basa harus dinetralkan sampai pads pH 7,0 ± 01 dengan menggunakan asam atau basa.
2.     Sampel yang diduga mengandung sisa klor aktip (yang dapat menghalangi proses mikrobiologis) harus ditentukan konsentrasi klor aktipnya (lihat Bab 6). Per mol klor aktip yang dikandung sampel, dibutuhkan satu mol zat pereduksi, seperti Nat S03, Nat S2 03 dan sebagainya.
3.   Sampel yang diduga, mengandung zat beracun : lihat A.1.3. Bab ini..4. Sampel yang mengandung oksigen yang melebihi kejenuhannya (terlalu jenuh), misalnya lebih dari 9 mg 02 A pads 20° C, perlu diturunkan ka­dar oksigennya dengan cars pengocokan. Keadaan tersebut dapat terjadi pads sampel yang ditumbuhi ganggang.
5. Pengenceran sampel :     Oleh karena jumlah oksigen dalam botol terbatas, maksimum 9 mg 02 /1 tersedia, dan sebaiknya oksigen terlarut pads akhir mass inkubasi antara 3 dan 6 mg 02 A, maka sampel perlu diencerkan.
Karena kadar BOD tidak diketahui terlebih dahulu, beberapa pe­ngenceran harus dicoba secara serempak agar supaya setelah inkubasi se-lama 5 hari paling sedikit 1 sampel masih mengandung antara 3 dan 6 mg 02 /1. Dengan demikian analisa setiap sampel memerlukan :-          3 pengenceran R, S dan T (atau lebih banyak kalau BOD sampel ti­dak dapat ditaksir sama sekali).-          1 blanko (untuk menentukan BOD air pengencer).Ada 2 cara untuk menaksir pengenceran yang cocok :a. Bila COD sampel telah diketahui, maka taksiran kadar BOD yang terdekat adalah sebagai berikut (lihat taoel 10.1 untuk prinsip­nya) .R (rendah)        sampel sedikit"oersifat "biodegradable"BOD                                 0,16 x COD;R (rendah)S (edang)          sampel cukup bersifat "bioclegrable"RODS (sedang)                0,32 x COD,T (inggi)            sampel sangat bersifat "biodegrable"BOD T(inggi)       = 0,65 x COD,Kemudian tentukan derajat pengenceran P sesuai dengan taksiran BOD seperti tercantum dalam 

Tabel 10.2.Tabel 10.2. Derajat pengenceran P sesuai jenis air baku untuk tes BODs



b.         Bila COD sampel tidak diketahui sebelumnya. Untuk.menaksir pengenceran P yang cocok, lihat Tabel 10.2. Minimum diharap­kan 3 derajat pengenceran. Misalnya, bila sampel air sungai yang diduga tercermar oleh zat organs, maka taksiran BODnya ber­ada sekitar 15 dan 60 mg 02 /liter sehingga dipilih P = 0,25; 0,125 dan 0,0625. Bagaimana kalau setelah inkubasi 5 hari BODnya ternyata lebih tinggi dari yang diduga, misalnya sampai mencapai 125 mg 02 /liter? Memang, 3 tes yang telah dikerja­kan tidak dengan derajat P yang cukup tinggi hingga semua ok­sigen pads botolnya habis setelah 5 hari dan tidak ada hasil ! Tes BOD Bering tidak dapat diulang lagi, karena pencemaran su­ngai telah berakhir (misalnya pencemaran yang disebabkan oleh pencucian tangki di pabrik terjadi satu kali sebulan).
Supaya pengambilan sampel efisien, sebaiknya jumlah pe­ngenceran cukup banyak hingga salah satu dari pengenceran da­pat memberikan hasil yang tepat; namun cara lebih terjamin adalah dengan pemeriksaan COD lebih dahulu (lihat butir a). Pe­meriksaan COD tidak dapat dihindari kalau air buangan industri yang hendak diperiksa tak dapat ditaksir lebih dahulu.
6.      Dari cara pemilihan derajat pengenceran P, tiga atau lebih derajat pe­ngenceran dipilih. Bila salah satu derajat pengenceran adalah P = 0,25, maka 2 liter larutan sampel yang sudah diencerkan harus disiapkan yang terdiri dari 500 ml sampel asli dan 1500 ml air pengencer (Tabel 10.2.). 2 botol BOD diisi dengan larutan tersebut (larutan R), satu untuk anali­sa pads saat t = 0, yaitu botol R, , dan yang satu lagi untuk analisa pads saat t = 5 hari yaitu botol R2 - Pengenceran "S" yang berikutnya dibuat dengan memindahkan 1 liter larutan "R" ke dalam labu takar 2 liter dan pengisiannya sampai penuh dengan 1 liter air pengencer. Dua botol TOD diisi dengan larutan "S" ini. Larutan "T" dibuat dengan memin­dahkan 1 liter larutan "S" ke dalam labu takar 2 liter, lalu diisi sampai penuh dengan air pengencer . (Kalau jumlah pengenceran diinginkan le­bih banyak, cara sama dapat diteruskan). Dua botol BOD diisi dengan larutan "T" ini. Dua botol BOD diisi dengan air pengencer (larutan kerja) Berta be­nihnya berlaku sebagai blanko. BODs blanko sdharusnya antara 0,5 dan 2 mg 02 It. Awas : gelembung udara tidak boleh berada dalam. botol!7.      Botol-botol BOD (sampel dan blanko) lalu disimpan dalam inkubator (suhu 20° C ± V C) selama kira-kira 1 jam. Kalau suhu larutan tersebut sebelumnya lebih tinggi daripada 20° C, maka akan terjadi penurunan volum dalam botol. Setelah 1 jam botol tersebut dibuka sebentar lalu diisi dengan air pengencer sehingga di dalam botol tertutup tidak ada gelembung udara.8.    Separuh dari jumlah botol-botol BOD tersebut lalu disimpan terns da­lam inkubator (suhu 20*± 1°C) selama 5 hari. Separuhnya dikeluarkan untuk analisa oksigen terlarut.
Juga kalau jumlah sampel BOD lebih banyak (yang memakai air pengen­cer yang sama), 2 blanko tersebut cukup. Supaya lebih teliti, duplikat blanko dapat dibuat.


Pengecekan ketelitian pelaksanaan analisa BOD.
Analisa BOD adalah penting dan bermanfaat, walaupun analisanya tidak sebegitu mudah dan Bering dilaksanakan secara kurang teliti. Seorang laboran atau mahasiswa bare yang ingin mengerjakan banyak analisa BOD, sebaiknya mengecek cara, kerjanya dengan metoda pengecekan di bawah ini.
Larutan standard dibuat dengan melarutkan. pada ± 0,5 liter air suling di da­lam labu takar 1 liter:
·        750 g glukosa, monohidrat ( BM = 198 )
·        750 g asam L — glutamik garam-Na monohidrat ( BM = 187)
·         1,21 g KH2 PO4
·         1,06 g K2 HPO4·      0,10 g MgSO4. 7H2 O·         0,01 g FeC13. 6H2 O·         0,10 g CaC12.
Tambahkan larutan NaOH atau H2 SO4 sampai pH = 7,0 ± 0,1, kemudi­an encerkan dengan air suling sampai 1 liter. Larutan tersebut bersifat tetap dan mengandung kadar COD = 1270 mg 02 /­liter (BOD5 = 0,65 x 1270 = 825 mg 02 /liter). Larutan standard ini masih harus ditambah benih serta inhibitor nitrifikasi, supaya reaksi mikrobiologis berjalan secara, optimal.
Hasil pengecekan harus dalam batas lebih atau kurang 5 % dari angka BOD teoretis yang disebut atas. Kalau tidak, berarti cara kerja di laborato­rium serta persiapan benih, kurang sempurna. Laboran (mahasiswa) masih harus menyempurnakan cara kerja yang telah dilakukannya.

I.    PERHITUNGANBOD5 20 = (XO — X5) - (Bo — B5 ) (1 - P )/PBODI   sebagai mg O2/l,
Xo = OT (oksigen terlarut) sampel pads saat t = 0 (mg O2 /l);
X5 = OT sampel pads saat t=5hari (mg O2/1);
Bo = OT blanko pads saat t = 0 (mg O2/ l);B5 = OT blanko pads saat t=5 hari (mg O2/l);P = derajat pengenceran.


DAFTAR PUSTAKASumestri Sri. Metode Penelitian Air.